Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review
Politik


Politik
(Ketidak-tentuan Masa Depan Politik)


Konspirasi asing (melalui TNI) sedang mempermainkan kondisi politik Indonesia saat ini menuju kepada kericuhan. Hal ini sulit untuk dapat diketahui dengan pola-pola linier karena variabel yang berperan di dalamnya sangatlah beragam. Salah satu yang memicu kericuhan tesebut adalah UU Pemilu. Ryas Rasyid sendiri telah menyatakan bahwa UU Pemilu yang ia sebut sebagai "UU setengah hati" akan menimbulkan ketegangan di masyarakat, ketegangan antar partai dan juga ketegangan internal partai. Sementara kita mengetahui bahwa yang membuat membuat RUU adalah Depdagri yang mana Menteri-nya dari dulu hingga sekarang selalu diisi oleh militer. Ryas Rasyid mungkin belum mengetahui grand design konspirasi dari militer atas Indonesia yang mana kericuhan menghadapi Pemilu adalah salah satu bagian dari desain tersebut.

Pada Level Wacana

Kita akan dikondisikan pada situasi yang semakin tidak menentu, dimana kita melihat di satu pihak ada sekelompok orang menginginkan pemilu, ada sekelompok yang lain menolak pemilu, sementara ada juga sekelompok yang lain lagi malah ingin menggulingkan pemerintahan Mega-Hamzah. Sekelompok yang menginginkan pemilu juga terbilah ke dalam beberapa pengelompokan lagi, demikian juga dengan yang tidak menginginkan pemilu.

Pada Level Pemerintahan Legislatif

Di level pemerintah, dalam hal ini DPR, keluarnya RUU Pemilu molor dari yang direncanakan, sehingga KPU terganggu dalam menjadwal. Setelah itu KPU kembali terganggu lagi dengan isu jabatan rangkap UU Pemilu sehingga menyebabkan mundurnya 2 anggota KPU. Hal ini berakibat kinerja KPU sangat terganggu. Kemudian permasalahan lain muncul lagi seperti Dana KPU, KPU daerah yang lambat dalam persiapan dan tidak berkompeten dalam personal, Panwaslu yang mayoritas tidak berkompeten, P4B yang diundur 2 minggu dari dari yang direncanakan, hingga kepada yang terkini adalah RUU Pilpres yang terus memperdebatkan syarat 20% partai layak mencalonkan presiden dan juga masalah tingkat pendidikan presiden. Padahal pansus RUU Susduk baru dibentuk akhir Februari 2003. Sementara itu, ditengah banyaknya masalah berkaitan dengan RUU Politk tersebut DPR masih sempat pula mengadakan reses pada 8 Maret sampai 25 April 2003.

Pada Level Pemerintahan Eksekutif

Di tempat lainnya, terjadinya perbedaan yang kuat diantara kalangan sipil dengan kalangan militer dalam menyikapi permasalahan invasi Amerika ke Iraq. Pihak Sipil (Megawati, Amin Rais, Hidayat Nurwahid, Akbar Tanjung) dengan tegas menolak hingga bahkan mengutuk invasi AS tersebut. Sementara kalangan militer tidak menyuarakan demikian. Bahkan beberapa personal militer (salah satunya Kiki Syaniakri) malah mendukung Amerika. Hal ini bisa diartikan ada perpecahan antara Militer dengan Partai-Partai (Sipil). Inilah kerja tim konspirasi. Ada yang mendesak Mega untuk anti-AS (bahkan meminta dia untuk berangkat "sowan" ke Rusia) namun ada pihak yang menjaga militer agar tidak ikutan menjadi anti AS, karena AS sangat penting bagi militer.

Pada Level Islam

Sementara pada dimensi non-pemerintah, pihak Bos Soeripto sepertinya ia ingin bermain cantik, dimana dengan "merubah" PK menjadi PKS ia meng-inginkan posisi aman untuk ikut pemilu 2004, sementara melalui KAMMI ia malah meminta mundurnya pemerintahan MG-Hmzah untuk kemudian digantikan oleh Presidium Nasional dan menolak pemilu 2004. Dia cari aman dari 2 opsi yang kemungkinan (menurutnya) akan terjadi di depan. Dia lupa bahwa militer lebih kuat dalam konspirasi dan dia lupa bahwa berbahaya untuk bermain dengan militer dan Islam sekaligus, karena kondisi Al-Jazair bisa saja terjadi di Indonesia dengan terlalu lancang-nya KAMMI ini.

Pada Level Kelompok Sok Elit

Di pihak lain, Gus Dur ikut serta dalam Front Ampera (bersama Rahmawati Soekarno Putri dan beberapa orang sok elit yang lain) yang bermuara pada penjatuhan Mega-Hamzah, sementara ia juga turut serta dalam pencalonan sebagai Presiden dari PKB. Sepertinya dia berharap bahwa setelah Mega-Hamzah jatuh, dan ia duduk dalam Presidium, dia akan bisa "bertempur" dalam Pemilu 2004 yang diselenggarakan Presidium.
Mahasiswa non-KAMMI muncul ke publik dengan permintaan untuk tidak mempercayai lagi elit politik. Mereka meminta para elit untuk mundur. Mereka menuntut mundurnya Mega-Hamzah, bubarnya MPR/DPR dan pembentukan Presidium / Pemerintahan Peralihan.
Sepertinya ada pola maupun isu yang sama diantara KAMMI dan non-KAMMI.

It's All About Conspiracy Theory

Semua ketidak-menentuan ini (khususnya keinginan untuk menjatuhkan Mega-Hamzah) diawali oleh keluarnya kebijakan pemerintah untuk menaikkan 3 tarif (telepon, BBM dan listrik). Awalnya kelompok perempuan / mahasiswa / masyarakat menuntut penurunan harga dan menolak kenaikan 3 tarif tersebut. Namun meskipun kemudian pemerintah menunda kenaikan, malahan tuntutan mahasiswa / kelompok perempuan berpindah ke hal yang tinggi lagi yakni meminta mundurnya Mega-Hamzah. Dengan kata lain, memang sudah direncanakan mahasiswa untuk digiring menjatuhkan Mega. Naiknya 3 tarif tersebut memang diharapkan menjadi stimulan-nya.
Begitulah kerja konspirasi, ada yang bermain di pihak pemerintah (sehingga keluar kebijakan menaikkan 3 tarif dan memancing mahasiswa untuk turun ke jalan), ada yang bermain di pihak DPR, ada yang bermain di belakang militer, bahkan ada pula yang bermain di kalangan mahasiswa. Mereka semua memperalat objek-objek tersebut.

Sederhananya ekspektasi politik Indonesia tidak ada yang berani meramal setelah 2004. Sungguh bangsa primit kita ini!

Gonjang-Ganjing yang Tidak Jelas Namun Jelas

Sebuah gocang ganjing yang sepertinya tidak jelasnya muaranya mau kemana nantinya. Namun bagi kami Presidium Mahasiswa dan Pemuda Indonesia, semuanya adalah jelas dan jernih di mata kami. Semua itu hanyalah peralatan saja.
Namun kami, Presidium Mahasiswa dan Pemuda Indonesia dapat membaca hal ini dengan jelas dan jernih bahwa hal ini adalah kerjaan pihak asing semua. Desain Yahudi (melalui Amerika dan TNI) memang membuat politik Indonesia menjadi kisruh. Pemilu 2004 adalah isu saja, karena ia digunakan untuk mengalihkan perhatian politisi sipil dari gerakan militer di Indonesia. Pemilu 2004 sebenarnya direncanakan untuk tidak terjadi. Secara hitungan teknis saja pemilu sudah bermasalah dengan jadwal. Hal ini merupakan kerjaan agen Amerika di DPR sehingga mengakibatkan RUU Pemilu telat disahkan sehingga mengakibatkan kendala di depannya. Belum lagi munculnya beberapa pasal dalam RUU Pilpres yang terus-menerus menguras perhatian para politisi sipil.
Rencana sebenarnya adalah begitu Mega jatuh pada (paling lambat) Juni 2003 maka kejelasan akan tidak mungkinnya Pemilu 2004 akan semakin jelas terlihat. Pasca Mega adalah Presidium Nasional (versi-militer) yang akan diisi oleh campuran sipil-militer, dengan menempatkan sipil sebagai pimpinan, meski sebenarnya militer yang menyetir sipil tersebut. Begitulah memang keinginan pihak asing di Indonesia terkini.
Pada penjelasan berikutnya akan kami susun beberapa rangkaian penjelasan untuk memudahkan dalam memahami bahwa Politik Indonesia memang dikondisikan kacau terutama melalui isu Pemilu 2004 guna menyita perhatian para politisi dan masyarakat. Militer (TNI) adalah pihak yang mengambil untung.

< Pemilu 2004 sebagai pengalih perhatian>

kembali ke halaman utama

© 2002-2003
Presidium Mahasiswa & Pemuda Indonesia