|
Otonomi
Daerah
Non-Sentralisasi
Sentralisasi pada jaman Soeharto memang membuat banyak
hal di Indonesia menjadi bermasalah. Beberapa masalah tersebut antara
lain: pembangunan daerah menjadi tertinggal, Jakarta-sentris, pendapatan
daerah yang sebagian besar ditarik ke pusat, daerah yang selalu
di-intervensi Jakarta, Bupati menjadi perpanjangan kekuasaan Pusat
di Daerah dll. Untuk alasan ini, memang membuat sentralisasi menjadi
hal yang tidak baik untuk dipertahankan lebih lama lagi.
Ide Desentralisasi
Namun ketika berbarengan dengan penggulingan Soeharto Mei '98 kemarin
muncul ide Otda yang menghendaki perubahan dari sentralisasi menjadi
desentralisasi membuat kita semua seperti mendapatkan angin segar
perubahan. Desentralisasi-nya ditempatkan di Dati-II, bukannya di
Dati-I maupun Desa. Mahasiswa '98 dengan menggunakan dialektika
ide saja tanpa merujuk kepada dialektika material (penelitian
ilmiah lapangan yang komprehensif maupun pengalaman empiris yang
terukur) langsung merespon (menyambar) ide tersebut dengan cepat.
Ide itu langsung diterima begitu saja dan kemudian disuarakan untuk
diperjuangkan. Bahkan sampai-sampai Otda ini dimasukkan menjadi
salah satu Amanat Reformasi.
Sementara itu pihak kapitalis tidak demikian. Sebelum menelurkan
ide Otonomi Daerah (Desentralisasi Dati-II) di Indonesia, mereka
melakukan penelitian lapangan terlebih dahulu. Penelitian lapangan
ini dilakuan dengan menggunakan "bungkus" bantuan maupun
kemanusiaan melalui Bank Dunia, ADB, US-AID, AUS-AID dll. Bentuk
penelitian mereka ini "terbungkus" rapi di dalam beberapa
program sepert : program pelatihan bagi UKM, program penyediaan
air bersih pedesaan, pemberdayaan ekonomi rakyat, program pemetaan
wilayah rawan konflik Indonesia, program belajar S2/S3 ilmu sosial
di LN dengan tesis/disertasi yang studi kasusnya diambil di Indonesia
dll.
Semua program ini secara kasat mata merupakan program bantuan murni
tanpa kepentingan pemberi dana. Namun sebenarnya tidak demikian.
Bank Dunia dan beberapa lembaga donor tersebut yang juga merupakan
"teman-nya" IMF (yang sama-sama dibentuk di Bretton
Wood akibat resesi ekonomi pasca Perang Dunia II) tersebut mempunyai
target sampingan di balik pemberian bantuan. Lembaga-lembaga ini
melakukan research di Indonesia dengan menggunakan orang-orang
Indonesia. Bermainnya memang sangat halus.
Hasil kompilasi dari penelitian beberapa tahun di Indonesia inilah
yang membuat mereka mengambil kesimpulan untuk membuat kebijakan
Otda di Indonesia yang kemudian diminta untuk dijalankan di Indonesia.
Mahasiswa '98 hanya mendapat tempat untuk sebagai corong lapangan-nya
saja. Ryas Rasyid (yang katanya menjadi konseptor Otda
Indonesia) hanya kebagian menjadi think tank kecilnya. Dalang-nya
tetap Intelektual-nya Kapitalis AS.
Maksud Kapitalis Di Belakang Ide Otda
Kebijakan Otda ini sebenarnya merupakan sasaran antara bagi masuknya
modal Yahudi ke Asia (khusus-nya ke Indonesia) yang memiliki targetan
akhir adalah kepemilikan Indonesia secara total. Indonesia akan
dijadikan tanah airnya Yahudi.
Dengan berlakunya Otda selanjutnya melalui RUU
Keuangan Negara, daerah (khususnya Dati-II) diberikan kesempatan
untuk mengakses dana melalui hutang kepada LN. Pengaksesan
hutang tersebut dapat dilakukan Dati-II tanpa harus melalui koordinasi
rumit kepada pemerintah pusat (apalagi koordinasi kepada rakyat,
jelas tidak ada.). Nantinya diharapkan dengan semakin banyaknya
hutang daerah kepada LN, melalui penjaminan aset daerah tentunya,
kemudian potensi korupsi daerah yang tetap tinggi, maka diharapkan
kepemilkan atas daerah tersebut akan dapat berpindah pula menjadi
milik si pemberi dana. Pola Divestasi BUMN akan dilanjutkn dengan
pola Divestasi BUMD. Bayangkan jika seluruh Dati-II se-Indonesia
berhutang ke LN dan tidak ada yang mampu membayar karena dikorupsi
semuanya (karena rakyat tidak mampu kontrol Pemda maupun DPRD-nya),
maka seluruh aset dan wilayah nantinya dapat berpindah kepemilikian
menjadi milik si pemberi dana pinjaman.Untuk lengkapnya silahkan
lihat Skenario Ekonomi.

|