|
Pertahanan
dan Kemananan
(Intervensi Asing Mengobok-obok Indonesia)
Soliditas Organisasi Militer
Adalah suatu yang umum untuk dipahami bahwa militer adalah pihak
yang sangat menjunjung tinggi soliditas organisasi. Ditambah dengan
kelebihan lain, yakni legalitas dalam memiliki dan menggunakan senjata
membuat militer (dan polisi) menjadi kelompok yang sepertinya bisa
berbuat apa saja. Jika mereka ingin bermain-main dengan kekuasaan,
maka sangatlah gampang untuk dilakukan, karena alasan untuk melakukan
apapun dapat dikarang-karang sedemikian rupa sehingga menjadi reasonable
dan logis.
Dengan kelebihan itu juga menjadi masuk akal pula bagi militer untuk
menciptakan kerusuhan untuk kemudian mengambil alih kekuasaan. Bahkan
tidak merupakan hal baru kalau militer juga turut bermain dalam
kerusuhan ataupun terorisme yang merka ciptakan sendiri lewat milisi
ataupun penyusupan. Kasus
Jemaah Islamiah di jaman Ali Moertopo serta kasus FPI bentukan
Wiranto telah membuktkan hal tersebut;.
Maka dari
itu, kita mesti berhati-hati jangan sampai militer masuk dalam kekuasaan
politik.
Kuasa Militer atas Sipil
Sejarah Indonesia (khususnya pasca-Soekarno) adalah sejarahnya militer.
Beberapa kawan mengatakan bahwa kalau dahulu Indonesia "dikuasai"
oleh Soeharto, kemudian berpindah kepada "kekuasaan" Wiranto
(di jaman Habibie) dan saat ini berpindah di tangan Soesilo Bambang
dan Hendropriono (jaman Gus Dur dan khususnya di masa Mega-Hamzah).
Partai-partai (representasi sipil) hanyalah selalu menjadi "pesuruh"-nya
militer.
Harapan Pada Aparat
Meski sejarah mengatakan demikian, kita tentunya berharap kalau
militer kita tidak berposisi seperti itu. Kita menginginkan suatu
aparat yang profesional yang tunduk kepada rakyat. Rakyat adalah
penguasanya. Politik adalah jalur aspirasinya. Hankam (dalam hal
ini TNI/Polri) adalah sub-ordinasi dari itu semua. Kita tentunya
tidak berharap yang sebaliknya dimana aparat yang meng-eksploitasi
rakyat. Namun yang terjadi di Indonesia adalah yang menjadi kekhawatiran
kita bersama tersebut. Militer (dan polisi) malah menjadi momok
bagi rakyatnya. Mereka seolah lupa kepada rakyatnya yang sudah membiayai
mereka.
Hankam (Militer/Polri) Fungsi dari Modal
Namun yang menyedihkan adalah, pihak militer (dan polisi) kita lebih
mengikuti kehendak asing dan kehendak pemilik modal daripada kehendak
rakyat yang semakin menderita. Intervensi ini bermain dan menekan
Cilangkap dan Polri..
Militer (dan Polri)-nya Indonesia ini adalah "pesuruh"
militer asing yang lebih hebat tentunya. Selain itu mereka juga
adalah "pesuruh"nya cukong-cukong kaya dalam negeri. Sementara
militer asing ini adalah "pesuruhnya" pemilik modal asing,
tentunya Yahudi-lah penguasannya. Freemansory adalah salah
satunya. Rothschilds adalah salah duanya. Sehingga dapat
dipahami bahwa keamanan (militer) adalah fungsi dari modal (kapitalisme).
Pada penjelasan berikutnya akan kami coba untuk menggambarkan permainan
yang sedang dilakukan militer (dan polisi) di bawah tekanan Pentagon
(dan CIA) dalam usaha untuk mengambil alih kekuasaan negara.
Karena memang pihak asing (Yahudi kapitalis lewat Pentagon-nya)
menghendaki demikian. TNI di "suruh" untuk berkuasa sementara
saja guna mempersiapkan segala sesuatu menyongsong kedatangan modal
Yahudi dalam jumlah sangat besar ke Indonesia. Militer (dan polisi)
Indonesia ditekan pihak asing dengan berbagai cara : dengan uang,
dengan perempuan, dengan hasrat kekuasaan bahkan dengan kekuatan
pistol yang ditodongkan ke wajah militer tersebut.
Upaya
Pengambil-alihan Kekuasaan

|