Indonesia
kita ini
dan Yahudi itu
Indonesia merupakan
negara yang sangat potensial dan sangat diminati oleh negara asing.
Ia sangat berharga dan diperebutkan oleh banyak kepentingan pihak
luar. Masalahnya adalah warga negaranya sajalah yang tidak pernah
menyadari betapa berharganya negara Indonesia ini.
Kami mengidentifikasi beberapa potensi Indonesia yang juga merupakan
alasan pihak asing (khususnya AS vs Cina) memperebutkannya.
5 Potensi Indonesia Asing
Potensi yang dimiliki Indonesia tersebut adalah :
1. Indonesia memiliki jumlah
penduduk ke-4 terbanyak sedunia dengan jumlah sekitar 220
juta jiwa lebih. (setelah RRC, India dan AS). Artinya untuk kepentingan
pemasaran produk (market), maka Indonesia sangatlah penting perannya.
2. Indonesia memiliki sumber
daya alam yang tak habis-habis, mulai dari yang di daratan
hingga yang di laut.
3. Indonesia dengan 220 juta
penduduk tersebut masih sangat bodoh-bodoh
(dengan Human Development Index/HDI peringkat di atas 100
sedunia) sehingga tidak mampu untuk mengelola SDA tak terbatas
yang dimilikinya tersebut. Artinya untuk dikuasai secara fisik-pun
(seperti jaman Belanda dulu dengan sistem sewa-lahan) masih memungkinkan
untuk dilakukan.
4. Indonesia dengan potensi-nya
itu sampai saat ini, masih saja sabar untuk selalu menjadi konsumen
paling konsumtif tiada tara se-dunia sehingga banyak pihak
menginginkan ia untuk tetap bersatu utuh, tidak boleh terpecah-pecah.
Jadi alasan utuhnya Indonesia ini adalah kepentingan bisnis adanya.
Artinya logika militer berada di bawah logika kapitalisme.
5. Indonesia memiliki penduduk
beragama Islam paling banyak sedunia.
Jadi bagi pihak-pihak yang tidak menyukai eksistensi Islam, maka
sudah selayaknyalah mereka itu untuk selalu menjadikan Indonesia
sebagai target. Dan hal ini sudah dibuktikan dengan adanya Bom
Bali pada 12 Oktober 2002 dengan logika terorisme-nya.
Apalagi jika kita mampu membaca kondisi perang strategis
blok Amerika dengan blok RRC, maka posisi dan kondisi Indonesia
ini akan semakin jelas perannya.
Perang AS vs RRC
Blok Amerika ini merupakan keluarga Anglo-Saxon yang terdiri Amerika
Serikat, Inggris, Australia. Pengikutnya adalah Filipina, Jepang,
Arab Saudi, Kuwait dan beberapa bekas jajahan Inggris Raya. Sedangkan
blok RRC merupakan blok yang berkumpul secara taktis saja oleh
karena keterdesakan dari blok Amerika. Blok RRC terdiri dari Rusia
(yang dikalahkan AS lewat isu HAM dengan pecahnya Uni Soviet),
Jerman (dengan bekas kejayaan Prusia dan Hitler-nya), Perancis
(dengan bekas kejayaan Napoleon Bonaparte-nya). Pengikutnya adalah
Iraq (yang baru diserang AS dan sekutunya), Iran dan Suriah (yang
sebentar lagi juga akan diserang AS), serta beberapa negara ras-Cina
lainnya. Untuk mudahnya, lihat saja pengelompokan dalam menyikapi
invasi AS ke Iraq kemarin.
Khusus untuk RRC, pengikutnya masih ditambah lagi dengan para
Cina perantauan yang ada di seluruh dunia, salah satu yang paling
aktif ada di Indonesia.
Perang yang dimaksud di sini adalah perang pengaruh (hegemoni),
perang bisnis, perang militer bahkan nantinya hingga kepada perang
untuk penguasaan wilayah secara fisik. AS dkk dalam hal ini Yahudi-nya
bermimpi ingin menjadikan dunia dibawah 1 atap pemerintahan, sehingga
keluarlah ide Globalisasi-nya.
Untuk skala dunia, dalam melihat perang ini, Pentagon sudah memberikan
sinyal bahwa Asia
khusunya Cina adalah target utama mereka. Wujud kongkrit-nya
silahkan perhatikan bagaimana AS
(sebagai perpanjangan tangan Yahudi) mengepung Cina dari Selatan,
Barat dan Timur. Dari Barat mereka mulai masuk dengan
mengambil Afghanistan, kemudian Iraq, setelah itu menyusul Suriah
dan Iran. Dari Selatan dengan bantuan Australia, mereka
masuk melalui Indonesia dan Philipina. Lihat saja bagaimana mereka
menguasai Timor-Timur, mem-bom Bali, dan menguasai Aceh (melalui
Henry Dunand Centre). Kemudian mereka sudah memiliki pangkalan
militer di Philipina dan Korea Selatan. Pengepungan Cina dari
Timur mereka masuk melalui Korea Selatan. Untuk dari Timur
ini, mereka masih mempunyai kendala yakni Korea Utara. Maka dari
itu Korea Utara mesti dibereskan terlebih dahulu.
Kira-kira apa yang melatarbelakangi begitu bernafsu-nya AS untuk
perang tak henti-hentinya. Setelah perang dengan Afghanistan,
Iraq, ia ingin lanjutkan dengan Suriah, Iran dan Korut. Ada apa
ya?
Indonesia di tengah Perang AS vs RRC
Posisi Indonesia dalam perang strategis ini adalah berada dalam
lintasan perang tersebut. Atau boleh juga dikatakan bahwa lokasi
perang tersebut juga sedang berlangsung di Indonesia. Namun dasar
Indonesia, karena keluguan atau kebodohannya, maka terlupakannya-lah
hal penting tersebut.
Peran Indonesia sampai saat ini selalu menjadi alat saja dari
perang tersebut. Terkadang ia dipakai oleh "Cina" terkadang
ia dipakai oleh "Amerika". Secara kasat mata dan sudah
menjadi rahasia umum bagaimana pejabat Indonesia (Presiden/Menteri/Kejaksaan/
Kehakiman/ DPR/DPRD/Gubernur/Bupati/ Walikota/Militer) yang selalu
silih berganti di-back-up (di-suap) oleh kepentingan bisnis AS
maupun Cina di Indonesia.
Dari kelompok Cina, hadirlah para pemain besarnya seperti Om Liem,
Eka Cipta, Ciputra, Mochtar Riyadi, Bob Hasan dll dengan Kerajaan
Bisnis mereka masing-masing seperti Gudang Garam, HM Sampoerna,
Astra Internasional, Indofood, Maspion, Mayora, PT Kalimanis Plywood,
Bank Danamon, Lippo Group, Gajah Tunggal, Tiga Roda, Sinar Mas.
Selain itu juga ada Tommy Winata, Cina asal Medan yang menjadi
bos-mafioso di Jakarta dengan Kerajaan Kapal dan Kerajaan Judi-nya.
Sementara dari kelompok Yahudi (Amerika dll) hadir pula Freeport,
TOTAL, Exxon Mobile, Caltex, ABN AMRO Bank, Standard Chartered
Bank, City Bank, ICI, Halliburton, British Petroleum.. Pemain
dalam bisnis besar Yahudi ini sangat sulit untuk diketahui individunya.
Siapa yang mengendalikan Indonesia sebenarnya-kah? Indonesia-kah
atau asing-kah? Rasanya tidak mungkin Akbar Tanjung dkk di DPR
sana mengatur Tommy Winata. Yang paling masuk akal tentunya adalah
sebaliknya. Demikian juga dengan Amin Rais dkk di MPR sana, sulit
untuk diyakini kalau mereka lebih menentukan kebijakan Indonesia
dibandingkan dengan Mochtar Riyadi cs. Apalagi para pajabat di
tingkat daerah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tentara dan pejabat
dipakai pengusaha untuk mem-back-up bisnis mereka.
Perubahan Sistem sebagai Solusi
Indonesia akan selalu dan senantiasa menjadi pion-pion saja dari
kepentingan perang bisnis AS vs Cina kecuali kita melakukan perubahan
sistemik di negara ini. Perubahan sistemik yang tentunya lebih
membuat rakyat berdaulat, bukan partai, bukan militer dan tentunya
bukan pihak asing. Sistem yang harus diperbaiki! Bukan orang yang
harus diganti! Bukan Pemilu (dengan sistem seperti saat ini) sebagai
Solusi!
Indonesia sebagai Primadona
Satu hal yang mesti dicatat di sini adalah, bahwa Yahudi akan
meninggalkan Amerika (hal ini dapat dilihat dari mulai rontoknya
perekonomian Amerika), dan modal Yahudi akan bersemai di suatu
lokasi yang sangat didambakan orang, ibarat syurga-nya dunia,
jamrud Khatulistiwa di wilayah Asia
.Dari beberapa daerah
di Asia, yang menjadi primadonanya adalah INDONESIA. Dipilihnya
Indonesia karena dianggap memiliki semua potensi yang dibutuhkan
Yahudi. Potens yang dimaksud adalah 5 potensi di atas dan potensi
geopolitis-bisnis-strategis terhadap RRC.
Modal Yahudi ini akan masuk dalam bentuk
Investasi.
Mengapa Indonesia yang dijadikan pilihan? Karena alamnya memiliki
SDA tak terbatas, dan indahnya luar biasa. Sementara manusia Indonesia-nya
masih tetap bodoh-bodoh dan syahwat akan suap-dollar semua, Jumlah
penduduknya yang sangat besar (220 juta, ke-4 terbanyak sedunia),
dan Islam di Indonesia paling banyak sedunia (Yahudi tidak suka
akan Islam merupakan rahasia umum tentunya). Selain tu, alasan
lainnya adalah lokasi Indonesia dekat dengan Cina, sehingga untuk
perang dengan Cina akan lebih nyata. Dari Indonesia nantinya Yahudi
akan mengontrol Cina melalui Phlipina (Selatan-nya Cina), Korea
Bersatu (Timur-nya Cina), dan deretan Israel-Arab Saudi, Suriah,
Iraq, Iran, Afghanistan (Barat-nya Cina).
1 | 2 | Berikutnya>>