Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review
dokumen sebelumnya kembali ke halaman utama dokumen berikutnya


Untuk Mas Amin, Buya SOERIPTO (Bos PK-PKS-KAMMI), serta Gus Dur:
"Agar Indonesia tidak seperti Aljazair"


Para “bos” politik yang mengendalikan Partai-Partai Islam seperti : Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional; Partai Kebangkitan Bangsa serta Organisasi Mahasiswa Islam ekstra-kampus seperti : HMI; KAMMI; PMII; serta IMM tidak sadar bahwa “menyatukan” isyu Perang-Bush di Iraq dengan isyu menggusur Mega-Hamzah bisa mengundang kondisi seperti Afgahanistan, Iraq dan Aljazair ke Indonesia.
Sebab “penyama-an” Jemaah Islamiyah dengan Taliban dan Ikhwanul-Muslimin ataupun Wahabi atau Al-Qaeda oleh pihak Amerika segera “tercapai” dengan bantuan PKS; PAN; PKB dan HMI, IMM; KAMMI serta PMII tsb.

Negara-negara Barat Kapitalis telah menjadikan “Islam” sebagai fundamentalis, teroris, dsb sebagai suatu cara atau grand design yang diterjemahkan ke dalam intervensi militer dan agresi.

Pola Aljazair (1,2,3) dimana militer dipake pihak asing untuk menghadapi Islam, nampaknya akan diterapkan di Indonesia. Yaitu Amerika akan memakai tentara (TNI) untuk menghadapi Islam. PKB; PKS; PAN dan HMI, KAMMI; IMM dan PMII bisa setiap saat dimasukkan ke dalam sebutan Jemaah Islamiah, Al-Qaeda, fundamentalis, dsb.

Kongres Mahasiswa Indonesia yang dilangsungkan di UI Depok yang menghasilkan Gerakan Indonesia Mahasiswa Bersatu (GIMB) pada tanggal 2 dan 3 April 2003 itu “di-setir” oleh bos KAMMI dan HMI. Ini akan menempatkan posisi mahasiswa pada posisi-terdesak dan terpelesetkan. Kasus GIMB ini bisa meluncurkan Indonesia ke-posisi “di-Aljazairkan-kan” dan mahasiswa yang murni memperjuangkan “kedaulatan-rakyat” terkucilkan. Saat-saat atau detik-detik “ke-vacuum-an emas” bagi mahasiswa untuk menegakkan eksistensinya menjadi terganggu. Bos-KAMMI dan HMI itu kurang perhitungan strategis posisi mahasiswa Indonesia yang “langka” ditemui seperti saat ini. BEM se-Jabotabek akan terseret ke arah penghalangan berdirinya “Presidium Mahasiswa Indonesia” yang bebas dari bayangan partai, golongan dan tentara.

“Monopoli” seperti yang digagas oleh Kongres Mahasiswa “KAMMI” dan "HMI" di kampus Depok dan kemudian dilanjutkan di suatu tempat lain itu, menunjukkan kekurang-matangan berikir si-pengendali KAMMI dan "HMI". Mestinya KAMMI dan HMI merupakan pendorong serta “bagian” dari barisan mahasiswa Indonesia yang mendeklarasikan eksistensi-mahasiswa dalam satu Presidium Mahasiswa & Pemuda Indonesia. Bukan memecahnya.

dokumen sebelumnya kembali ke halaman utama dokumen berikutnya

© 2002-2003
Presidium Mahasiswa & Pemuda Indonesia