Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review
dokumen sebelumnya kembali ke halaman utama dokumen berikutnya

Aceh Sebagai Lahan SIMULASI dan
Batu Loncatan Militer


Inul dan GAM

Sekitar 3 minggu awal di bulan April 2003 publik media di Indonesia di hebohkan oleh kasus tak bermutu, yakni perdebatan akan Inul yang sangat kental nuansa rekayasa-nya. Setelah masuk minggu ke-empat April 2003, publik Indonesia dikejutkan kambali oleh rencana penyerangan TNI terhadap GAM. Terjadinya begitu tiba-tiba sehingga publik dipaksa untuk menerima semua argumentasi TNI untuk menyerang GAM. Kami mencurigai pemunculan konflik Inul ini sekedar untuk mengalihkan perhatian publik guna menutupi persiapan dan siasat tentara dalam penyerangan GAM. Media telah berkolaborasi dengan TNI.

Mega ke Rusia dan Penyerangan GAM

Hal lain yang dapat dipertanyakan kembali dalam melihat penyerangan TNI-GAM di Aceh adalah kepergian Megawati ke Rusia. Ketika Megawati berada di Rusia dan Eropa Timur (23 April 2003), pada saat itulah kasus Aceh kembali memanas. Pada saat itulah, militer dengan seketika tanpa koordinasi berarti dengan Megawati, langsung mengerahkan pasukan ke Aceh (24 April 2003). Megawati cukup hanya berkata dari kejauhan tanpa harus merasakan suasana konflik di lapangan, dan menyatakan mendukung pengerahan pasukan tersebut. Di tengah potensi konflik berdarah di Aceh, Mega di Rusia dengan santai layak-nya orang berwisata sambil melihat-lihat senjata (26 April 2003) dan Panglima memberikan press conference (29 April 2003) tentang kasus Aceh.
Kami mencurigai bahwa militer sengaja menyarankan Megawati untuk ke LN, dan di saat itulah militer beraksi. Selain itu, kejanggalan lainnya adalah rapat konsultasi antara pemerintah (baca: TNI)-DPR terkesan hanya berbasa-basi saja karena TNI sudah menggelar pasukan secara besar-besaran terlebih dahulu. Pertemuan tesebut hanyalah formalitas saja tentunya. Akhirnya TNI dengan mendapatkan payung hukum legitimasi pemerintahan (Keppres, dukungan DPR dan dukungan MPR) melakukan penyerangan GAM. Hal ini mengindikasikan dengan sangat kuat bahwa TNI sudah mengambil peranan dalam menentukan kebijakan politik. Sipil sudah dilangkahi militer. TNI telah berhasil menjadi penguasa de-facto pemerintahan saat ini.

Aceh Sebagai Lahan Simulasi sebelum Indonesia

Penguasaan Militer atas Sipil dalam kasus Aceh ini menurut kami hanyalah sasaran antara saja. Sasaran utamanya adalah pengusaan militer atas sipil di tingkat yang lebih besar lagi, yakni tingkat Indonesia. Kasus Aceh hanyalah lahan simulasi di tingkat mikro, sedangkan lahan sebenarnya adalah dalam skala makro, yakni Indonesia. Daurat Militer tidak hanya dialami oleh Aceh, namun akan terjadi di seluruh Indonesia. Hal ini akan terjadi pada 2004 nanti.

Perang Aceh dan Penggulingan Megawati

Dalam perhitungan kami perang di Aceh merupakan bagian dari skenario untuk menjatuhkan Megawati, sekaligus untuk menaikkan militer ke kekuasaan politik. Namun Mega tidak paham akan hal tersebut. Jika pun dia paham, dia tidak mampu untuk berbuat banyak.

Yahudi dibalik Perang Ganja (Perang TNI-GAM)

Dari data intelijen bapak ZA Maulani (bekas Kepala Bakin), kami mendapatkan informasi bahwa perang TNI-GAM hanyalah perang karena bisnis ganja. Ganja adalah dasar dari semua itu. Selain itu, ada indikasi kuat bahwa Hasan Tiro si pemimpin GAM di Swedia ( merupakan suami dari perempuan Yahudi serta memiliki anak calon "putera mahkota" Aceh masa depan yang juga Yahudi). Dengan kata lain, GAM di-indikasikan sebagai bentukan Yahudi Amerika selama ia menjadi staf KBRI di Washington. Kami mencurigai perang ini hanyalah "perang-perang-an" yang memiliki tujuan sampingan tertentu. Korban banyak mati terbunuh untuk "perang-perang-an" ini. Hal ini lumrah dalam logika konspirasi.

Perseteruan TNI-GAM dan Permainan Internasional
Sebelum penyerangan GAM oleh TNI terjadi, telah dilakukan beberapa kali dialog dan upaya damai. Pihak Internasioanal (dimotori oleh Amerika) menunjukkan kesan tidak menyetujui penyerangan ini. Kemudian dilakukan pertemuan Jenewa dengan disponsori HDC (Henry Dunand Centre) yang menghasilkan perjanjian damai dan hadirnya JSC (Joint Security Council) di Aceh. Karena markas JSC dibakar "orang tak dikenal" maka hubungan TNI-GAM kembali menegang. Pihak internasional kembali mengupayakan pertemuan GAM-TNI. Pertemuan pertama gagal dilakukan karena kedua belah pihak menarik diri dari pertemuan tersebut, sedangkan pertemuan kedua dapat dilakukan di Jepang atas prakarsa negara-negara donor.
Semua upaya damai dari pihak Internasioanal telah dilakukan namun Pemerintah (TNI) tetap memaksa untuk menyerang GAM. Hal ini tentunya akan menjadi alasan bagi pihak internasional untuk menyangsikan "kepatuhan" Pemerintah RI.

Selain itu sikap Pemerintah RI (yang disetir TNI) yang menjadi sangat kaku / otoriter terhadap pers dalam negeri maupun pers asing (serta organisasi kemanusiaan asing) akan menyebabkan Pemerintah RI menjadi semakin tidak mendapatkan simpati internasional. Sikap tidak simpati ini nantinya akan bergeser menjadi mengkritik bahkan mengecam. Desain asing melalui militer Indonesia memang demikian berjalannya. TNI juga ingin menggulinggkan Mega nantinya.

Nantinya, lewat penyerangan ini Pemerintah RI akan dikondisikan menjadi pihak yang dipersalahkan oleh pihak Internasional. Pemerintah RI akan dianggap tidak menghargai perjanjian Internasional di Jenewa, HDC maupun pertemuan Jepang, sehingga pihak Internasional juga akan menolak/mengkaji ulang perjanjian-perjanjian lainnya dengan pemerintah Indonesia. Pemerintah RI akan dianggap sebagai negara tidak demokratis. Selain itu tentunya penyerangan ini akan memakan korban sipil yang tidak sedikit. Pengalaman DOM 10 tahun akan terulang kembali. Darah akan kembali tumpah. Dengan jatuhnya korban sipil dalam jumlah banyak akan mengakibatkan pemerintah RI terperangkap ke dalam penjahat HAM. Pihak Internasional mendapatkan legitimasi untuk campur-tangan urusan dalam negeri Indonesia. Pemerintah yang akan dipersalahkan dalam hal ini adalah pemerintahan atas nama Megawati. Dia berkemungkinan untuk diajukan ke Mahkamah Internasional. Pihak internasional akan mempersalahkan Presiden RI, DPR maupun MPR.
Sementara TNI hanya akan mendapatkan problem yang sedikit. Existensi TNI akan tetap dibutuhkan untuk mengurus Indonesia. Masuknya intervensi Internasional (dimotori oleh AS) dalam suasana konflik di Indonesia akan menempatkan TNI kembali mendapat tempat untuk mengurus negara. Nantinya intervensi AS (atas nama HAM dan Demokrasi) terhadap Indonesia ini akan menyingkirkan pihak TNI yang terlibat dalam keputusan penyerangan GAM. Kemudian mereka ini akan digantikan dengan personel jendral TNI lainnya yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Keinginan Internasional untuk menghukum pemerintahan RI ini (Presiden, DPR dan MPR) akan menjadi "gayung bersambut" dengan keinginan dari dalam negeri Indonesia (yang memang sudah dimobilisir terlebih dahulu oleh agen AS lainnya) yang menginginkan penggulingan Mega-Hamzah, pembubaran DPR/MPR dan pembentukan Pemerintahan Transisi, dalam hal ini mahasiswa dan beberapa orang-orang sok elit.

Skenario melalui Aceh inilah akhirnya yang membuat rasional Pemerintahan Transisi tersebut mesti di-isi oleh kalangan militer. Situasi Darurat Sipil di Indonesia Pasca Mega juga akan menjadi masuk akal. Melalui Aceh yang mikro ini, nantinya TNI akan menguasai yang makro-nya yakni Negara Indonesia.
Skenario-nya memang demikian.
Hal semacam inilah yang dikenal sebagai conspiracy.

Untuk melihat konspirasi asing yang berdarah dan berhasil dalam sejarah Indonesia, silakan melihat skenario penggulingan Soekarno oleh Soeharto dengan bantuan AS (CIA).
Pengalihan isu, korban jatuh, penyingkiran jendral, penyingkiran teman merupakan hal yang biasa dalam konspirasi. Penggulingan Soekarno membuktikan hal itu. Kasus Aceh dan penyingkiran Megawati juga (akan) demikian.

<Dokumen PDF Halaman Ini>

dokumen sebelumnya kembali ke halaman utama dokumen berikutnya

© 2002-2003
Presidium Mahasiswa & Pemuda Indonesia